Terjemah Hadits 3 Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah
|
Imam Abu
‘Isa At-Tirmidzi berkata dalam kitab “Asy-Syama’il
Al-Muḥammadiyyah” حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ يَقُولُ: «كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مَرْبُوعًا بَعِيدَ
مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ
الْيُسْرَى، عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ، مَا رَأَيْتُ شَيْئًا قَطُّ أَحْسَنَ
مِنْهُ» [3] – (3)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, ia berkata: telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja‘far, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami Syu‘bah, dari Abu Ishaq, ia berkata: aku mendengar Al-Bara’ bin
‘Azib berkata: “Rasulullah
ﷺ adalah seorang laki-laki yang bertubuh
sedang, (tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek), dengan jarak antara
kedua bahunya lebar, memiliki rambut yang lebat hingga mencapai daun telinga
kirinya, beliau mengenakan pakaian berwarna merah, dan aku tidak pernah
melihat sesuatu pun yang lebih indah daripada beliau.” |
Makna global hadis:
Al-Bara’ رضي
الله عنه
dalam hadis ini menggambarkan keindahan rupa Nabi صلى
الله عليه وسلم
dan penampilannya yang menawan. Ia mengabarkan bahwa beliau bertubuh sedang;
pertengahan, tidak tinggi dan tidak pendek, serta bahwa beliau صلى
الله عليه وسلم
memiliki bahu yang lebar, dan itu merupakan tanda kekuatan dan kewibawaan.
Ia juga menyebutkan bahwa rambut
beliau—yaitu rambut kepala beliau—panjang hingga mencapai bagian bawah
telinganya, yang menambah kewibawaan dan keindahan beliau.
Al-Bara’ رضي
الله عنه
juga menunjukkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pada saat itu mengenakan pakaian merah,
yang termasuk pakaian paling indah yang dikenakan, sehingga menambah keelokan
di atas keelokan beliau.
Kemudian Al-Bara’ رضي
الله عنه
menutup dengan ucapannya yang menyentuh: “Aku tidak pernah melihat sesuatu pun
sama sekali yang lebih indah darinya,”
dan ini merupakan ungkapan kekaguman
yang sangat terhadap keindahan fisik Nabi صلى
الله عليه وسلم,
serta bahwa ia tidak pernah melihat dalam hidupnya pemandangan yang melebihi
keindahan beliau صلى الله عليه وسلم.
Maka hadis ini secara ringkas
menjelaskan kesempurnaan penampilan Nabi صلى
الله عليه وسلم,
keindahan rupanya, dan kelembutan penampilannya, sehingga tidak ada seorang pun
yang menyerupainya dalam keindahan.
Takhrij hadis:
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam
“Asy-Syama’il Al-Muḥammadiyyah”
– cet. Al-Maktabah At-Tijariyyah (hlm. 30 dan 48) (no. 3 dan 26), dan dalam
“Al-‘Ilal Al-Kabir” = “Tartib ‘Ilal At-Tirmidzi Al-Kabir” (hlm. 344) (no. 638),
serta oleh Al-Bukhari dalam “Shahih”-nya (4/188) (no. 3551), Muslim dalam “Shahih”-nya
(4/1818/91) (no. 2337), An-Nasa’i dalam “Sunan”-nya (8/183) (no. 5232), dan
dalam “As-Sunan Al-Kubro” (8/320) (no. 9277), Abu Dawud Ath-Thayalisi dalam “Musnad”-nya
(2/92) (no. 757), Ahmad dalam “Musnad”-nya – cet. ‘Alam Al-Kutub (4/281) (no.
18473), Abu Ya‘la Al-Maushili dalam “Musnad”-nya (3/262) (no. 1714), Ar-Ruyani
dalam “Musnad”-nya (1/228) (no. 320), Ibnu Hibban (14/195) (no. 6284), serta
Al-Baihaqi dalam “Syu‘ab Al-Iman” (8/433) (no. 6053), dan dalam “Dala’il
An-Nubuwwah” – tahqiq ‘Abdul Mu‘thi Qal‘aji (1/222 dan 1/240).
Hadis ini shahih: dinyatakan shahih
oleh Al-Albaniy رحمه الله dalam “Mukhtashar Asy-Syama’il” (hlm. 14)
(no. 3), “Takhrij Misykat Al-Mashobih” (3/1610) (no. 5783), dan “At-Ta‘liqot
Al-Hisan ‘ala Shahih Ibnu Hibban” (9/104) (no. 6251).
Di antara Faedah Hadis ini:
Ibnu Rajab رحمه
الله
berkata dalam kitabnya “Fathul Bari”
(2/436):
“Hal ini menunjukkan bolehnya shalat
dengan mengenakan pakaian merah.
Abu ‘Ubaid berkata: al-ḥullah adalah pakaian Yaman dari
berbagai jenis kain. Ia berkata: al-ḥullah adalah sarung dan selendang,
tidak dinamakan ḥullah
sampai terdiri dari dua pakaian.” Selesai.
Ibnu Hajar رحمه
الله
berkata dalam “Fathul Bari” (10/305):
“Telah diringkas bagi kami dari
pendapat salaf tentang memakai pakaian merah tujuh pendapat:
Pertama: bolehnya secara mutlak;
diriwayatkan dari ‘Ali, Thalhah, ‘Abdullah bin Ja‘far, Al-Bara’, dan selain
mereka dari kalangan sahabat, serta dari Sa‘id bin Al-Musayyib, An-Nakha‘i,
Asy-Sya‘bi, Abu Qilabah, Abu Wa’il, dan sekelompok tabi‘in.
Kedua: larangan secara mutlak;
berdasarkan hadis ‘Abdullah bin ‘Amr
dan riwayat Al-Baihaqi, serta Ibnu Majah dari Ibnu ‘Umar: “Rasulullah ﷺ melarang al-mufaddam (yaitu yang sangat
merah karena dicelup dengan ‘ushfur).”
dari ‘Umar: “Apabila ia melihat
seseorang memakai pakaian yang dicelup merah, ia menariknya dan berkata:
tinggalkan ini untuk wanita.”
Dari Al-Hasan secara mursal: “Warna
merah termasuk perhiasan setan, dan setan menyukai warna merah.” (namun
sanadnya lemah bahkan ada yang mengatakan batil).
dari ‘Abdullah bin ‘Amr: seorang
laki-laki lewat dengan dua pakaian merah, ia memberi salam, tetapi Nabi ﷺ tidak menjawabnya.
Dari Rofi‘ bin Khadij: Nabi ﷺ melihat kain bergaris merah pada kendaraan
mereka, lalu bersabda: “Apakah aku melihat warna merah ini telah menguasai
kalian?”
Dari seorang wanita Bani Asad: Ketika
Nabi ﷺ melihat warna merah pada pakaian, beliau kembali
hingga warna itu dihilangkan.
Ketiga: makruh memakai merah yang sangat
mencolok, tidak yang ringan.
Keempat: makruh jika untuk tujuan berhias
dan ketenaran, tetapi boleh di rumah atau saat bekerja.
Kelima: boleh jika benangnya yang diwarnai
sebelum ditenun, dan dilarang jika dicelup setelah ditenun.
Keenam: larangan khusus pada yang dicelup
dengan ‘ushfur, bukan selainnya.
Ketujuh: larangan pada pakaian yang
seluruhnya merah murni, adapun yang bercampur warna lain tidak.
Ibnu Al-Qayyim berkata, Sebagian
ulama memakai merah pekat dan mengira itu sunnah, padahal keliru, karena “hullah
merah” dari Yaman bukan merah murni.
Ath-Thabari berkata, Yang benar
menurutku bolehnya pakaian berwarna, namun aku tidak menyukai merah mencolok
atau yang tampak mencolok karena bukan kebiasaan orang berwibawa di zaman kami.
Kesimpulannya: larangan itu jika karena menyerupai
orang kafir, atau wanita, atau karena ketenaran; jika tidak, maka pendapat yang
kuat adalah boleh.” Selesai.
Al-Qadhi ‘Iyadh رحمه
الله
berkata dalam “Ikmal al-Mu‘lim” (7/307):
“Sabdanya: ‘dalam pakaian merah’
adalah dalil bolehnya memakai pakaian merah dan mewarnainya.”
Ibnu Baththal رحمه
الله
berkata dalam “Syarh Shahih al-Bukhari” (2/39):
“Di dalamnya terdapat kebolehan memakai
pakaian merah, dan bantahan terhadap yang memakruhkannya. Juga bolehnya pakaian
berwarna bagi orang besar dan zuhud. Warna merah termasuk hiasan paling
terkenal. Firman Allah: ‘Katakanlah: siapa yang mengharamkan perhiasan Allah’,
mencakup semua perhiasan yang mubah.”
Ibnu Daqiq al-‘Id رحمه
الله
berkata dalam “Iḥkām al-Aḥkām” (2/295):
“Di dalamnya dalil bolehnya memakai
merah, dan ḥullah
menurut Arab adalah dua pakaian.
Juga dalil memelihara rambut.
Hal-hal fisik yang dinukil dari Nabi ﷺ dianjurkan untuk diteladani pada
sifatnya.”
Ibnu al-‘Aththar رحمه
الله
berkata dalam “Al-‘Uddah” (3/1656):
“Hadis ini menunjukkan bolehnya
memakai merah.
Hadis larangan kebanyakan lemah, dan
jika sahih maka dibawa kepada yang kurang utama.
Juga menunjukkan perhatian sahabat
dalam meriwayatkan sifat Nabi ﷺ untuk diteladani.
Dan dianjurkan memanjangkan rambut;
kadang sampai bahu, kadang sampai telinga.”
Abu Hafsh al-Fakihani رحمه
الله
berkata dalam “Riyaḍh
al-Afham” (5/489):
“Di dalamnya dalil memelihara dan
membelah rambut. Rambut adalah perhiasan, membelahnya sunnah, mencukurnya
(secara tertentu) adalah bid‘ah dan ciri Khawarij.”
Abdullah al-Bassam رحمه
الله
berkata dalam “Taysīr
al-‘Allam” (hlm. 731):
“Di antara faedahnya:
Bolehnya memakai merah, dan yang
dimaksud adalah yang bercampur, bukan merah murni.
Indahnya memelihara rambut sampai
bahu atau sekitarnya, bukan seperti model aneh masa kini (qaza‘).
Penjelasan keindahan fisik Nabi ﷺ, dan kesempurnaan akhlak dan rupa beliau.”
Al-Itsyubi رحمه
الله
berkata dalam “Dzakhīrah
al-‘Uqbā” (38/33):
“Di antaranya: bolehnya memelihara
rambut, keindahan Nabi ﷺ, bolehnya memakai ḥullah, dan bolehnya warna merah
meski diperselisihkan.”
Muhammad Al-Amin al-Harari رحمه
الله
berkata dalam “Al-Kawkab al-Wahhāj”
(23/181):
“Hadis ini menunjukkan bolehnya
memakai merah.
Yang memakruhkannya secara mutlak
telah keliru.
Namun jika menjadi ciri orang fasik,
maka dimakruhkan karena menyerupai mereka, berdasarkan sabda: ‘Barang siapa
menyerupai suatu kaum maka ia termasuk mereka.’
Ini berlaku pada semua perkara,
bukan hanya warna merah.”
Dalam “Shahih Ibnu Hibban”:
“Bab tentang sifat Nabi ﷺ dan berita-beritanya.”
Dalam “Asy-Syari‘ah” karya
Al-Ajurri:
“Bab sifat fisik dan akhlak
Rasulullah ﷺ yang indah.”
Dalam “Dala’il an-Nubuwwah” karya
Al-Baihaqi:
“Bab sifat rambut Rasulullah ﷺ.”
Ibnu Daqiq al-‘Id رحمه
الله
berkata dalam “Al-I‘lam” (10/219):
“Di antaranya: dianjurkan
memanjangkan rambut bagi laki-laki; rambut Nabi ﷺ kadang sampai bahu, kadang sampai telinga.
Para ulama berbeda tentang membelah
rambut; yang kuat adalah boleh keduanya, dan membelah lebih utama.”
Syaikh Ibnu Baz رحمه
الله
berkata dalam “Al-Ifham” (hlm. 781):
“Ini menunjukkan tidak mengapa memakai
pakaian merah, demikian juga hitam, hijau, dan biru. Namun yang paling utama
adalah putih. Semua itu boleh, sebagaimana dalam hadis ini Nabi ﷺ memakai pakaian merah.”
Tambahan faedah:
1/ Hadis agung ini dari Asy-Syamā’il Al-Muḥammadiyyah mengandung banyak faedah
dalam sisi mengenal sifat-sifat Nabi صلى
الله عليه وسلم.
2/ Di dalamnya terdapat penetapan
sifat pertengahan dan keseimbangan pada bentuk tubuh beliau صلى
الله عليه وسلم.
Beliau “murbū‘” (sedang), tidak tinggi menjulang
dan tidak pula pendek, tetapi pada ukuran yang paling seimbang, dan ini
termasuk kesempurnaan penciptaan beliau.
3/ Di dalamnya terdapat kekuatan
fisik beliau صلى الله عليه وسلم, berdasarkan sabdanya: “lebar antara kedua
bahu”, yang menunjukkan keluasan, kekuatan, dan kesempurnaan kejantanan.
4/ Di dalamnya terdapat keindahan
rambut beliau صلى الله عليه وسلم dan bagusnya penampilan beliau, dari
sabdanya: “lebat rambutnya”, yaitu banyak dan sempurna rambutnya hingga
mencapai daun telinganya, yang menunjukkan perhatian para sahabat dalam
menggambarkan beliau dengan sangat rinci.
5/ Di dalamnya terdapat
disyariatkannya memperhatikan penampilan lahir tanpa berlebih-lebihan dan tanpa
dibuat-buat, karena beliau صلى الله عليه وسلم digambarkan dengan sesuatu yang menunjukkan
keindahan penampilan dan kebersihannya tanpa kesombongan.
6/ Di dalamnya terdapat bolehnya
memakai warna merah, dari perkataan Al-Bara’: “beliau mengenakan pakaian merah”.
Para ulama menjelaskan bahwa yang
dimaksud adalah pakaian yang memiliki garis-garis merah atau ditenun dengan
benang merah, bukan merah polos yang dilarang bagi laki-laki.
7/ Di dalamnya terdapat kesempurnaan
keindahan beliau صلى الله عليه وسلم dan bagusnya rupa beliau, karena Al-Barā’ berkata: “Aku tidak pernah melihat sesuatu pun
yang lebih indah darinya”, dan ini adalah persaksian para sahabat bahwa beliau
adalah manusia paling indah wajah dan penampilannya.
8/ Di dalamnya terdapat
disyariatkannya memuji Nabi صلى الله عليه وسلم dengan menyebutkan sifat-sifatnya, karena
para sahabat menggambarkan beliau dengan sangat rinci agar manusia semakin
mengenal dan mencintainya.
9/ Di dalamnya terdapat bertambahnya
kecintaan seorang mukmin kepada Nabi صلى
الله عليه وسلم
setiap kali ia semakin mengenal sifat-sifat beliau, karena penyebutan keindahan
dan kesempurnaan beliau menumbuhkan kerinduan dan cinta di dalam hati.
10/ Di dalamnya terdapat penampakan
mukjizat pada diri beliau صلى الله عليه وسلم dalam menghimpun antara keindahan rupa dan
akhlak; beliau menggabungkan antara penampilan yang indah dan akhlak yang
mulia, sesuatu yang tidak diberikan kepada siapa pun sebelum dan sesudahnya.
11/ Di dalamnya terdapat dalil atas
kejujuran para sahabat dalam meriwayatkan dan amanah dalam menggambarkan,
karena mereka menyifati beliau dengan sangat rinci hingga pada panjang rambut
dan warna pakaian.
12/ Di dalamnya terdapat semangat
umat untuk menjaga dan mendokumentasikan gambaran Nabi صلى
الله عليه وسلم
agar tetap terjaga dalam hati dan kitab-kitab, sehingga menjadi pendorong untuk
meneladani petunjuk beliau.
13/ Di dalamnya terdapat isyarat
bahwa keindahan lahir adalah nikmat dari Allah, namun keindahan yang paling
sempurna adalah yang disertai dengan kesempurnaan batin, sebagaimana yang
terkumpul pada Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
14/ Di dalamnya terdapat penegasan bahwa keindahan yang sejati adalah yang disertai dengan kewibawaan dan keagungan; Nabi صلى الله عليه وسلم bukan hanya indah, tetapi juga berwibawa, dan ini termasuk tanda-tanda kenabian beliau.
Komentar
Posting Komentar