Syarah Hadits 5 dari Kitab Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah
|
[5] – (5) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا
الْمَسْعُودِيُّ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مُسْلِمِ بْنِ هُرْمُزَ، عَنْ نَافِعِ
بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ: «لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ _صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ، شَثْنُ الْكَفَّيْنِ
وَالْقَدَمَيْنِ، ضَخْمُ الرَّأْسِ، ضَخْمُ الْكَرَادِيسِ، طَوِيلُ
الْمَسْرُبَةِ، إِذَا مَشَى تَكَفَّأَ تَكَفُّؤًا كَأَنَّمَا يَنْحَطُّ مِنْ
صَبَبٍ، لَمْ أَرَ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ مِثْلَهُ _صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ_». Dari
Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, ia berkata, “Tidaklah
Nabi ﷺ itu tinggi menjulang dan tidak pula
pendek; kedua telapak tangan dan kakinya tebal (berisi); kepalanya besar;
persendian tulangnya besar; memiliki rambut halus yang memanjang dari dada
hingga pusar. Apabila
beliau berjalan, beliau berjalan dengan condong ke depan dengan mantap
seakan-akan turun dari tempat yang tinggi. Aku
tidak pernah melihat seorang pun yang serupa dengan beliau, baik sebelumnya
maupun sesudahnya ﷺ.” |
Para
Perawi Hadis:
•
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma‘il
(gunung
dalam hafalan dan imam dunia dalam fikih hadis; wafat tahun 256 H di Khartank,
sebuah desa di Samarkand):
Ia
adalah Muhammad bin Isma‘il bin Ibrahim bin al-Mughirah al-Ju‘fi, maula mereka,
Abu ‘Abdillah bin Abi al-Hasan al-Bukhari, seorang hafizh (penyusun kitab “Shahih”).
Lahir tahun 194 H, termasuk golongan pertengahan dari para perawi setelah
tabi‘ut tabi‘in. Hadisnya diriwayatkan oleh: Tirmidzi dan an-Nasa’i.
•
Ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu Nu‘aim
(seorang
yang terpercaya lagi kokoh; wafat tahun 218 H di Kufah):
Ia
adalah al-Fadhl bin Dukain (Amr) bin Hammad bin Zuhair al-Qurasyi at-Taimi
ath-Thalhiy, maula mereka, al-Ahwal, Abu Nu‘aim al-Mula’i al-Kufi (lebih
dikenal dengan kunyahnya). Lahir tahun 130 H, termasuk kalangan junior di
antara tabi‘ut tabi‘in. Hadisnya diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
Tirmidziy, dan an-Nasa’iy.
•
Ia berkata, Telah menceritakan kepada kami al-Mas‘udiy
(orangnya
jujur, namun hafalannya berubah di akhir hayatnya; patokannya: siapa yang mendengar
darinya di Baghdad, maka itu setelah terjadi perubahan; wafat tahun 160 H di
Baghdad):
Ia
adalah ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin ‘Utbah bin ‘Abdillah bin Mas‘ud al-Kufi,
dikenal dengan al-Mas‘udi (saudara Abu al-‘Umaish ‘Utbah). Termasuk kalangan
besar tabi‘ut tabi‘in. Hadisnya diriwayatkan oleh: Bukhari dalam al-Adab
al-Mufrad, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
•
Dari ‘Utsman bin Muslim bin Hurmuz
(padanya
terdapat kelemahan):
Ia
adalah ‘Utsman bin Muslim bin Hurmuz (dikatakan juga: ‘Utsman bin ‘Abdillah bin
Hurmuz) al-Makki. Termasuk orang yang hidup sezaman dengan tabi‘in kecil.
Hadisnya diriwayatkan oleh: Tirmidzi dan an-Nasa’i dalam Musnad ‘Ali.
Aku
(penulis) berkata: ia diikuti oleh ‘Abdul Malik bin ‘Umair al-Qibthi
(terpercaya) dalam riwayat Ahmad di dalam Musnad-nya.
•
Dari Nafi‘ bin Jubair bin Muth‘im
(terpercaya
dan utama; wafat tahun 99 H di Madinah):
Ia
adalah Nafi‘ bin Jubair bin Muth‘im bin ‘Adi bin Naufal al-Qurasyi an-Naufali,
Abu Muhammad (dikatakan juga: Abu ‘Abdillah) al-Madani (saudara Muhammad bin
Jubair). Termasuk golongan pertengahan dari tabi‘in. Hadisnya diriwayatkan
oleh: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
•
Dari Ali bin Abi Thalib
(seorang
sahabat dari golongan pertama yang masuk Islam; sebagian ulama lebih menguatkan
bahwa ia adalah orang pertama yang masuk Islam; dan ia termasuk sepuluh sahabat
yang dijamin surga; wafat tahun 40 H):
Ia
adalah ‘Ali bin Abi Thalib bin ‘Abdul Muththalib bin Hasyim al-Qurasyi, Abu
al-Hasan al-Hasyimi (Amirul Mukminin, sepupu Rasulullah ﷺ). Hadisnya diriwayatkan oleh: Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.
Makna Global Hadis ini:
‘Ali
bin Abi Thalib رضي الله عنه dalam hadis ini menggambarkan dengan sangat rinci keindahan
rupa, kekuatan, dan kewibawaan Nabi ﷺ.
Beliau
menjelaskan bahwa Nabi ﷺ
bertubuh sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Kedua telapak tangan dan
kaki beliau digambarkan syatsnatān
(tebal dan berisi), yaitu menunjukkan kekuatan dan kekokohan. Disebutkan pula
bahwa kepala dan karādīs-nya (yakni
persendian dan tulang-tulangnya) besar, yang menunjukkan kesempurnaan bentuk
fisik dan kuatnya struktur tubuh beliau.
‘Ali
رضي الله عنه
juga menggambarkan masrūbah - yaitu
rambut halus yang memanjang dari dada hingga pusar -, yang
termasuk tanda keindahan fisik.
Adapun
cara berjalan beliau ﷺ,
maka beliau berjalan dengan takaffu’, yaitu langkah yang penuh semangat, kuat,
dan lurus, seakan-akan beliau menuruni tempat yang tinggi. Ini merupakan
perumpamaan yang menunjukkan kecepatan yang seimbang, dipadukan dengan wibawa
dan keteguhan.
Kemudian
‘Ali رضي الله عنه
menutup kesaksiannya yang agung dengan perkataannya: “Aku tidak pernah melihat
seorang pun yang serupa dengannya, baik sebelum maupun sesudahnya.” Ini
menegaskan bahwa Nabi ﷺ
mencapai puncak kesempurnaan bentuk fisik dan keindahan rupa, sehingga tidak
ada seorang pun yang menyerupainya, baik sebelumnya maupun setelahnya.
Hadis
ini menggambarkan kesempurnaan keindahan Nabi ﷺ, kekuatan fisiknya, kemuliaan penampilannya, serta keindahan
cara berjalannya, sehingga menjadikan sosok beliau sebagai manusia yang paling
sempurna dan paling indah.
Takhrij Hadis ini:
Hadis
ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Asy-Syama’il al-Muhammadiyyah
(hlm. 31 dan 113, no. 5 dan 126), dan dalam Sunan-nya (5/598, no. 3637). Juga
diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya (1/96 dan 1/127, no. 744, 746, dan
1053), Abu Dawud ath-Thayalisi dalam Musnad-nya (1/142, no. 166), Ibnu Syabbah
dalam Tarikh al-Madinah (2/602), Abu Bakr al-Khallal secara ringkas dalam
As-Sunnah (1/205, no. 230), al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain
(2/662, no. 4194), Abu asy-Syaikh al-Ashbahani secara ringkas dalam Akhlaq
an-Nabi (2/27, no. 213), al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman (3/11, no. 1349),
al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah (13/221, no. 3641), serta adh-Dhiya’
al-Maqdisi dalam Al-Ahadits al-Mukhtarah (2/367–368, no. 750–751).
Hadis
ini berstatus shahih li ghairihi. Hal ini ditegaskan oleh al-Albani رحمه
الله dalam Shahih Mawarid azh-Zham’an ila
Zawa’id Ibni Hibban (2/315, no. 1773), Mukhtashar asy-Syama’il (hlm. 15, no.
4), dan At-Ta‘liqat al-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban (9/116, no. 6278).
Di antara Faedah Hadis ini:
Muhammad
bin Ismail al-Shan‘ani, yang dikenal dengan al-Amir ash-Shan‘ani رحمه
الله berkata dalam At-Tanwir Syarh al-Jami‘
ash-Shaghir (8/284):
“(Kepalanya
besar) yaitu besar ukurannya. Telah disebutkan sebelumnya dengan lafaz: al-hāmah (kepala). Ini
merupakan dalil atas kesempurnaan akal dan daya pemahaman. Bukan yang dimaksud
adalah besarnya kepala orang yang bodoh. (Dan kedua tangan) maksudnya adalah
kedua lengan, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain. (Dan kedua kaki)
maksudnya adalah bagian antara mata kaki hingga lutut.” Selesai.
Ali
al-Qari رحمه الله
berkata dalam Jam‘ al-Wasā’il
fī
Syarh asy-Syamā’il
(1/22):
“(Besar
kepala) dengan huruf dhad yang bermakna sesuatu yang tebal atau besar dari
segala sesuatu. Dalam riwayat lain disebutkan: ‘besar bagian atas kepala’.
Sifat ini juga diriwayatkan dari selain ‘Ali melalui jalur-jalur yang sahih.
Ini menunjukkan kesempurnaan kekuatan otak, dan dengan kesempurnaan itulah
manusia dibedakan dari selainnya.” Selesai.
Beliau
juga berkata dalam kitab yang sama (1/23):
“Kemudian
penafian adanya yang serupa secara kebiasaan menunjukkan bahwa beliau adalah
yang paling indah dibandingkan siapa pun. Sebagaimana dikatakan: ‘Tidak ada di
negeri ini orang seperti Zaid.’ Rahasianya adalah bahwa jika yang serupa—yang
lebih dekat (derajatnya) daripada yang lebih baik—telah dinafikan dalam مقام penyebutan keindahan, maka penafian adanya yang lebih baik
tentu lebih utama dan lebih layak.” Selesai.
Al-Zurqani
رحمه الله
berkata dalam Syarh al-Mawahib al-Ladunniyyah (5/244),
Al-Hafizh
berkata,
“Hadis-hadis
yang berisi sifat (fisik) Nabi ﷺ termasuk dalam kategori hadis marfu‘ secara kesepakatan,
meskipun bukan berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuan beliau.” Selesai.
Oleh
karena itu, al-Karmani berkata,
“Objek
ilmu hadis adalah pribadi Nabi ﷺ itu sendiri, dari sisi beliau sebagai Rasul semata. Dengannya
diketahui ucapan, perbuatan, dan keadaan beliau. Tujuan akhirnya adalah meraih
kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).” Selesai.
Tambahan
Faedah-faedah:
Hadis
yang agung ini dari Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib رضي
الله عنه dalam menggambarkan Nabi ﷺ termasuk riwayat terbesar dalam باب asy-syamā’il
an-nabawiyyah. Di dalamnya terkandung deskripsi yang sangat rinci yang
menampakkan kesempurnaan penampilan, keindahan rupa, dan keseimbangan
penciptaan beliau. Padanya terdapat faedah yang sangat banyak, di antaranya:
1/
Di dalamnya terdapat penetapan bahwa postur Nabi ﷺ seimbang; tidak terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek,
bahkan berada di tengah—dan ini adalah bentuk fisik yang paling sempurna.
2/
Menunjukkan kesempurnaan penciptaan beliau ﷺ, karena sifat-sifatnya berada di tengah antara kekurangan dan
berlebihan, dan ini termasuk tanda kesempurnaan manusia.
3/
Isyarat akan kekuatan beliau ﷺ, dengan sifat “tebal telapak tangan dan kaki”, yakni kuat dan
padat, yang menunjukkan kekuatan fisik.
4/
Penggabungan antara kekuatan dan kelembutan; meskipun telapak beliau tebal,
Anas رضي الله عنه
bersaksi dalam hadis lain bahwa telapak beliau lebih lembut daripada sutra. Ini
menunjukkan perpaduan antara kekuatan badan dan kelembutan sentuhan.
5/
Menunjukkan kebesaran fisik beliau ﷺ dengan sifat “besar kepala dan besar persendian”, yang menjadi
bukti kokohnya struktur tubuh dan kuatnya anggota badan.
6/
Isyarat akan keserasian bentuk tubuh beliau ﷺ; kebesaran tersebut tidaklah buruk, tetapi dalam puncak
keseimbangan dan keindahan.
7/
Mengetahui rincian sifat fisik beliau ﷺ seperti panjangnya masrūbah (garis rambut dari
dada ke pusar), yang termasuk keindahan fisik.
8/
Sifat cara berjalan beliau ﷺ: berjalan dengan takaffu’, seakan-akan turun dari tempat
tinggi; yaitu berjalan dengan kekuatan dan tekad, bukan seperti orang lemah
atau sombong.
9/
Menunjukkan kewibawaan beliau ﷺ dalam berjalan; langkahnya mencerminkan kesungguhan dan tekad,
bukan kemalasan atau kesombongan.
10/
Isyarat akan tingginya himmah (semangat) beliau ﷺ; seakan-akan berjalan dari tempat tinggi, yang menunjukkan
kekuatan dan kesungguhan tanpa kelambanan.
11/
Kesempurnaan keseimbangan antara keindahan dan kekuatan pada diri beliau ﷺ; tidak ada sesuatu pun pada penampilannya yang keluar dari
keseimbangan.
12/
Kecintaan para sahabat terhadap sifat beliau ﷺ; ‘Ali رضي الله عنه menyampaikan deskripsi secara rinci, menunjukkan kuatnya
keterikatan hati mereka dan keinginan menjaga sifat beliau.
13/
Isyarat akan keajaiban penciptaan beliau ﷺ; terkumpul padanya sifat kekuatan, keindahan, keseimbangan, dan
kewibawaan yang tidak terkumpul pada selainnya.
14/
Penegasan keistimewaan beliau ﷺ dalam kesempurnaan manusia: “Aku tidak melihat seorang pun
seperti beliau, baik sebelum maupun sesudahnya.”
15/
Dalil bolehnya memuji Nabi ﷺ dengan sifat-sifat fisik, bahkan itu termasuk menghidupkan
kecintaan dan menampakkan kesempurnaan beliau.
16/
Menunjukkan besarnya kecintaan ‘Ali رضي
الله عنه kepada beliau, karena ia menutup dengan
pernyataan bahwa ia tidak pernah melihat yang serupa dengannya—ini termasuk
pujian yang sangat agung.
17/
Bantahan terhadap orang yang mengira Nabi ﷺ memiliki kekurangan fisik; seluruh riwayat sahih menegaskan
kesempurnaan dan keseimbangan rupa beliau.
18/
Penjelasan bahwa beliau ﷺ
adalah manusia yang sempurna, bukan malaikat atau jin, namun manusia yang
paling agung penampilannya dan paling indah rupanya.
19/
Penegasan bahwa keindahan beliau ﷺ disertai kewibawaan; bukan keindahan kosong dari wibawa, tetapi
keindahan yang diliputi keagungan.
20/
Mengajarkan bahwa keseimbangan adalah sifat paling sempurna, sebagaimana beliau
ﷺ
tidak condong kepada berlebihan atau meremehkan.
21/
Menunjukkan bahwa cara berjalan beliau seimbang dan kuat, yang merupakan tanda
kejantanan dan kesempurnaan.
22/
Dalil baiknya ittiba’ para sahabat kepada Nabi ﷺ bahkan dalam وصف (deskripsi), karena mereka meriwayatkan sifat beliau dengan
rinci untuk diteladani dan dicintai.
21/
Isyarat akan keagungan sirah beliau ﷺ bersama kewibawaannya; sebagaimana beliau sempurna dalam bentuk
fisik, beliau juga sempurna dalam akhlak.
22/
Penegasan keagungan Nabi ﷺ
di antara manusia; hingga ‘Ali bin Abi Thalib dengan kefasihan dan balaghahnya
tidak menemukan ungkapan yang lebih kuat daripada: “Aku tidak melihat yang
semisalnya.”
23/
Hadis ini termasuk sarana terbesar untuk menumbuhkan cinta dalam hati; karena
siapa yang mencintai seseorang, ia ingin mengetahui sifat dan rincian
keadaannya—dan hal ini semakin mengokohkan kecintaan kepada Nabi ﷺ dalam hati.
Komentar
Posting Komentar