Syarh Hadits 2 dari Kitab Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah
|
[2] – (2) Telah
menceritakan kepada kami Humaid bin Mas‘adah al-Bashri, ia berkata: telah
menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab ats-Tsaqafi, dari Humaid, dari Anas
bin Malik, ia berkata: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَبْعَةً، لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ، حَسَنَ الْجِسْمِ، وَكَانَ
شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلَا سَبْطٍ أَسْمَرَ اللَّوْنِ، إِذَا مَشَى
يَتَكَفَّأُ “Rasulullah ﷺ bertubuh sedang (tidak tinggi dan tidak
pula pendek), bentuk tubuhnya indah dan proporsional. Rambut beliau tidak
terlalu keriting dan tidak pula lurus terurai. Warna kulit beliau sawo
matang. Apabila beliau berjalan, beliau berjalan dengan langkah condong ke
depan (penuh tenaga).” |
Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan al-Laqqani al-Malikiy
(wafat 1041 H) –rahimahullah- berkata dalam kitab “Bahjatu al-Mahafil wa Ajmal
al-Wasa’il bi at-Ta‘rif bi Ruwat asy-Syama’il (1/66),
"قوله:
(أسمر اللون)،
قال الحافظ أبو
الفضل العراقي:
هذه اللفظة (أعني
أسمر اللون)، انفرد بها حميد عن أنس، ورواه غيره من الرواة عنه بلفظ أزهر اللون،
ثم نظرنا من روى
صفة لونه _عليه السلام_ غير أنس، فكلهم وصفه بالبياض دون السُّمْرَةِ وهم خمسة عشر
صحابياً، فتكون روايةُ حميدٍ شاذةً." اهـ
“Tentang sabda beliau: ‘berwarna sawo matang’,
Al-Hafizh Abu al-Fadhl al-‘Iraqiy berkata,
“Lafaz ini
(yakni ‘berwarna sawo matang’) hanya diriwayatkan oleh Humaid dari Anas. Adapun
para perawi lain yang meriwayatkan dari Anas, mereka meriwayatkannya dengan
lafaz: ‘berwarna cerah’.
Kemudian kami meneliti para sahabat lain yang
meriwayatkan sifat warna kulit Nabi ﷺ selain Anas, ternyata semuanya menyifati beliau dengan warna
putih (cerah), bukan sawo matang, dan jumlah mereka lima belas sahabat. Maka
riwayat Humaid ini tergolong riwayat yang syādz (menyelisihi riwayat yang lebih kuat).”
Dalam kitab “Asyraf al-Wasa’il ila Fahmi asy-Syama’il”
(hlm. 50) karya al-Haitamiy:
“Sabda beliau: (apabila berjalan, beliau berjalan dengan
condong), boleh dengan hamzah atau tanpa hamzah untuk meringankan bacaan;
maksudnya: beliau berjalan seakan-akan menuruni jalan yang menurun.”
Dalam kitab “Syarh as-Sunnah” karya al-Baghawi (13/220):
“Makna kata
(rab‘ah) adalah seseorang yang berada di tengah-tengah antara dua ukuran,
sebagaimana sabdanya: tidak tinggi dan tidak pula pendek.”
Makna Global Hadis
Anas bin Malik رضي الله عنه dalam hadis ini menggambarkan secara ringkas namun sangat
teliti tentang rupa dan penampilan Nabi ﷺ.
Ia menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bertubuh sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Ia juga
menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki tubuh yang indah, seimbang, dan serasi dalam
penciptaannya.
Anas رضي الله عنه juga menggambarkan rambut Nabi ﷺ yang tidak terlalu keriting dan tidak pula terlalu lurus,
melainkan berada di antara keduanya, suatu bentuk yang paling sempurna dalam
keindahan.
Kemudian ia menyebutkan warna kulit Nabi ﷺ yang cenderung sawo matang, yaitu terdapat sedikit rona gelap
alami yang justru menambah keelokan beliau. Ia juga menggambarkan cara berjalan
beliau: condong dengan kemiringan ringan, penuh kekuatan dan semangat, berjalan
dengan mantap dan terarah, bukan dengan kesombongan dan bukan pula dengan
langkah malas.
Hadis ini memberikan gambaran yang seimbang tentang
keindahan fisik Nabi ﷺ, keserasian bentuk tubuhnya, dan eloknya cara berjalan beliau,
yang menunjukkan kesempurnaan penciptaan dan adab beliau ﷺ.
Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam “asy-Syama’il
al-Muhammadiyyah” - cetakan al-Maktabah at-Tijariyyah (hlm. 29) (no. 2), dan
dalam “Sunan-nya” - tahqiq Ahmad Syakir (4/233) (no. 1754); Ibnu Sa‘d dalam “ath-Thabaqat
al-Kubro” (1/317); Abu Ya‘la al-Maushiliy dalam “Musnad-nya” (6/445) (no. 3832);
al-Ajurriy dalam “asy-Syari‘ah” (3/1496) (no. 1019); Abu Ja‘far Ibnu
al-Bakhtari dalam “Majmu‘ fihi Mushannafatuh” (hlm. 264) (no. 271); al-Hakim
dalam “al-Mustadrak ‘ala ash-Shohihain” (4/313) (no. 7750); al-Baghawiy dalam “Syarh
as-Sunnah” (13/220) (no. 3640); Ibnu ‘Asakir dalam “Tarikh Dimasyq” (3/277–278);
Abu Thahir as-Silafiy dalam at-Tasi‘ wa al-‘Isyrun min al-Masyikhah al-Baghdadiyyah
(hlm. 29) no. 24; dan adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Ahadits al-Mukhtaroh
(5/304) no. 1949.
Hadis ini shahih, dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy –rahimahullah-
dalam “Mukhtashar asy-Syama’il” (no. 2).
Faedah-faedah Hadis
1/ Hadits ini menunjukkan kesempurnaan fisik Nabi ﷺ, yang berada dalam keseimbangan antara tinggi dan pendek serta
keindahan tubuh.
2/ Hadits ini menegaskan bahwa sifat-sifat Nabi ﷺ berada di tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak kurang.
3/ Hadits ini menunjukkan bahwa keseimbangan adalah
bentuk keindahan dan kesempurnaan.
4/ Hadits ini menampakkan ketelitian para sahabat dalam
meriwayatkan sirah Nabi ﷺ secara detail.
5/ Hadits ini menunjukkan besarnya kecintaan para sahabat
kepada Nabi ﷺ.
6/ Hadits ini menjelaskan kesempurnaan jasmani Nabi ﷺ, tanpa cacat dan kekurangan.
7/ Hadits ini menunjukkan bahwa warna kulit beliau
mendekati warna kebanyakan bangsa Arab.
8/ Hadits ini menggambarkan cara berjalan Nabi ﷺ yang penuh semangat dan keteguhan.
9/ Hadits ini mendidik kaum muslimin agar memperhatikan
penampilan secara wajar.
10 Hadits ini menunjukkan kemudahan agama dan jauhnya
Nabi ﷺ
dari sikap berlebihan.
11/ Hadits ini menegaskan sisi kemanusiaan Nabi ﷺ, meskipun beliau adalah manusia terbaik.
12/ Hadits ini menambah keimanan akan kejujuran dan
kebenaran kenabian beliau ﷺ.
13/ Hadits ini mengajarkan ketelitian dalam meriwayatkan
ilmu.
Menunjukkan bahwa kesempurnaan lahir mengikuti
kesempurnaan batin.
14/ Hadits ini mengisyaratkan kesungguhan Nabi ﷺ dalam menjalani kehidupan.
15/ Hadits ini menunjukkan perhatian besar umat terhadap
sunnah beliau.
16/ Hadits ini menjadi bantahan bagi orang-orang yang
berlebih-lebihan dalam memuji Nabi ﷺ.
17/ Hadits ini memberikan teladan dalam cara berjalan
yang penuh wibawa tanpa kesombongan.
18/ Hadits ini menumbuhkan kembali kecintaan dan
kerinduan seorang mukmin kepada Nabi ﷺ ketika membaca sifat-sifat beliau.
Komentar
Posting Komentar