Hadits 1 dari Terjemah Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah
Mengenal
Sifat-sifat Nabi ﷺ
(Terjemah Kitab
Asy-Syama’il Al-Muhammadiyyah)
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan
salam semoga tercurah kepada semulia-mulia para nabi dan rasul, Nabi kita
Muhammad ﷺ,
beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Adapun setelah itu; sesungguhnya termasuk ilmu yang
paling mulia kedudukannya, paling besar pengaruhnya, dan paling suci buahnya
adalah: ilmu tentang syama’il (sifat-sifat
pribadi) Nabi ﷺ.
Dengannya sempurnalah gambaran keteladanan, menguatlah
dorongan cinta, dan terwujudlah kejujuran dalam mengikuti beliau. Karena hati
manusia diciptakan untuk mencintai siapa yang ia kenali kesempurnaannya, dan
mengikuti siapa yang ia saksikan keindahan akhlaknya serta kemuliaan
perangainya.
Sesungguhnya mengenal syama’il Nabi ﷺ bukan sekadar catatan sejarah ilmiah tentang kehidupan
Rasulullah ﷺ,
tetapi ia merupakan pintu besar dari pintu-pintu pendidikan iman dan jalan
kokoh untuk memahami sirah Nabi secara hidup.
Asy-Syama’il memperkenalkan keadaan lahir dan
batin Nabi ﷺ:
dalam ibadahnya, muamalahnya, penampilannya, tawaduknya, kelembutannya,
kesantunannya, sehingga teks-teks berubah menjadi teladan yang dapat
disaksikan, dan makna-makna menjadi perilaku nyata yang bisa diteladani.
Di antara kitab terbaik yang disusun dalam bab mulia ini
adalah kitab “asy-Syama’il al-Muḥammadiyyah” karya Imam al-Hafizh Abu ‘Isa Muḥammad
bin ‘Isa at-Tirmidziy رحمه الله, seorang imam besar yang menghimpun antara hafalan yang kuat,
ketelitian, pemahaman fikih, susunan yang rapi, dan pilihan hadis yang cermat.
Kitab ini istimewa dengan metode penulisannya yang baik,
menghimpun hadis-hadis shahih dan hasan tentang sifat fisik dan
akhlak Nabi ﷺ
secara ringkas tanpa mengurangi makna dan jelas tanpa membosankan.
Imam at-Tirmidziy رحمه الله telah menghimpun dalam kitab ini ringkasan sifat-sifat
Rasulullah ﷺ
yang sahih, mulai dari penampilan beliau, pakaian, cara berjalan, tertawa,
berbicara, makan, ibadah, hingga akhlak agung yang Allah sendiri memujinya.
Jadi, kitab ini menjadi rujukan para ulama dan bekal bagi
kaum muslimin, untuk menambah cinta, memperkuat iman, dan memperbarui ikatan
keteladanan.
Memulai kajian kitab yang penuh berkah ini merupakan
usaha menghidupkan kembali hubungan dengan Nabi ﷺ, dan pengingat bahwa hidayah yang sempurna tidak diraih kecuali
dengan mengikuti beliau lahir dan batin, akhlak dan perilaku.
Kami memohon kepada Allah Ta‘ala agar menganugerahkan
kepada kami ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh, serta menjadikan kami
termasuk orang yang paling mencintai Rasul-Nya ﷺ, paling mengikuti sunnahnya, dan paling meneladani petunjuknya.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas hal itu.
Definisi kata asy-Syama’il
Kata syama’il secara bahasa berarti akhlak dan tabiat.
Bentuk tunggalnya adalah syimal (dengan kasrah pada huruf syin).
Al-Fairuz Abadiy رحمه الله berkata dalam al-Qomus al-Muhith:
“Asy-syimal
berarti tabiat, jamaknya: syama’il.”
Ia juga berkata dalam “Basho’ir Dzawi at-Tamyiz”:
“Asy-syimal
berarti penciptaan dan kebiasaan, karena ia meliputi manusia sebagaimana
pakaian meliputi badan.”
Ibnu Manzhur رحمه الله berkata dalam “Lisan al-‘Arab”:
“Seseorang
disebut baik syama’il-nya, yakni dalam akhlak dan pergaulannya; dan dikatakan: “Fulan
memiliki akhlak yang mulia.”
Semua nukilan ini menunjukkan bahwa kata syama’il berarti
akhlak, tabiat, dan sifat-sifat yang menetap pada diri manusia, baik yang
tampak dalam interaksi maupun yang tersembunyi dalam watak.
Faedah mengenal Syama’il
Nabi ﷺ
Mengetahui syamā’il Nabi ﷺ
- yakni sifat
fisik, akhlak, ibadah, muamalah, dan kebiasaan beliau - memiliki faedah yang
besar, di antaranya:
1/ Menambah cinta sejati kepada Nabi ﷺ.
2/ Menguatkan iman dan meneguhkannya di dalam hati.
3/ Mewujudkan keteladanan yang benar dan sadar.
4/ Meluruskan konsep keteladanan tanpa ghuluw dan
meremehkan.
5/ Membersihkan jiwa dan memperindah akhlak.
5/ Menumbuhkan kecintaan terhadap sunnah dan membelanya.
6/ Mengagungkan kenabian tanpa berlebih-lebihan.
7/ Meneguhkan diri di masa fitnah dan cobaan.
8/ Mendidik keluarga dan anak-anak dengan cinta dan
teladan.
9/ Meraih syafaat Nabi ﷺ pada hari kiamat.
10/ Menjadi sarana untuk memperoleh akhlak mulia dan
mengikuti beliau.
Jadi, mengenal syama’il Nabi ﷺ bukan sekadar ilmu sejarah, tetapi ilmu yang melahirkan cinta,
cinta yang melahirkan keteladanan, dan keteladanan yang melahirkan kebahagiaan
dunia dan akhirat.
Bab:
Tentang sifat fisik Rasulullah ﷺ
Al-Hafizh Abu ‘Isa Muḥammad bin ‘Isa bin Saurah at-Tirmidziy –rahimahullah-
berkata,
Telah menceritakan kepada kami Abu Raja’ Qutaibah bin Sa‘id,
dari Malik bin Anas, dari Rabi‘ah bin Abi ‘Abdirrahman, dari Anas bin Malik –radhiyallahu
anhu- bahwa ia mendengarnya berkata,
كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ _صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ_ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ، وَلَا
بِالْقَصِيرِ، وَلَا بِالْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ، وَلَا بِالْآدَمِ، وَلَا
بِالْجَعْدِ الْقَطَطِ، وَلَا بِالسَّبْطِ، بَعَثَهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى
رَأْسِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، فَأَقَامَ بِمَكَّةَ عَشْرَ سِنِينَ، وَبِالْمَدِينَةِ
عَشْرَ سِنِينَ، وَتَوَفَّاهُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى رَأْسِ سِتِّينَ سَنَةً،
وَلَيْسَ فِي رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ عِشْرُونَ شَعْرَةً بَيْضَاءَ
“Rasulullah ﷺ tidaklah tinggi menjulang dan tidak
pula pendek, tidak berkulit putih pucat, dan tidak pula berkulit
gelap, tidak berambut sangat keriting dan tidak pula lurus terurai.
Allah -Ta‘ala- mengutus beliau pada usia empat puluh
tahun. Beliau tinggal di Mekah selama sepuluh tahun dan di Madinah selama
sepuluh tahun. Allah Ta‘ala mewafatkan beliau pada usia enam puluh tahun, dan
tidak terdapat pada kepala dan janggut beliau dua puluh helai rambut putih.”
Takhrij Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidziy dalam “asy-Syama’il
al-Mumammadiyyah” (no. 1 dan 384–385); dan dalam “Sunan”-nya (no. 1754 dan 3623),
al-Bukhariy dalam “Shohih”-nya (no. 3547–3548 dan 5900), Muslim dalam “Shohih”-nya
(no. 2347), dan An-Nasa’iy dalam “as-Sunan al-Kubro” (no. 9259).
Hadis ini shahih. Ia dishahihkan oleh al-Albaniy رحمه الله dalam “Mukhtashor asy-Syama’il” (hlm. 13) (no. 1), “Takhrij
Misykat al-Mashobih” (3/1610) no. 5782; “Shohih Al-Jami’ Ash-Shoghir” (no. 4813),
dan “at-Ta‘liqot al-Hisan ‘ala Shahih Ibni Hibban” (9/157) no. 6353.
Faedah Hadis
Syaikh Muhammad bin Ali bin Adam Al-Itsyubiy رحمه الله berkata dalam “al-Bahr al-Muhith ats-Tsajjaj fi Syarh Shohih
al-Imam Muslim Ibn al-Hajjaj” (37/664),
“Di antara faedah-faedahnya:
1. Penjelasan tentang sifat fisik Nabi ﷺ, bahwa beliau memiliki postur yang seimbang; tidak terlalu
tinggi menjulang dan tidak pula pendek kerdil, bahkan berada di antara
keduanya, dan itulah bentuk tubuh manusia yang paling sempurna dan terpuji.
2. Penjelasan tentang rambut beliau ﷺ, bahwa tidak terlalu keriting rapat dan tidak pula lurus
terurai, namun berada di antara keduanya, dan itulah bentuk rambut yang paling
sempurna dan terpuji.
3. Penjelasan tentang waktu pengutusan beliau ﷺ, yaitu bahwa beliau diutus pada usia empat puluh tahun sejak
kelahirannya, menurut riwayat yang paling kuat.
4. Penjelasan tentang masa tinggal beliau ﷺ setelah diutus. Beliau tinggal di Mekah selama dua puluh tiga
tahun menurut pendapat yang benar, dan di Madinah selama sepuluh tahun tanpa
perselisihan.
Ibnu ‘Abdil Barr رحمه الله berkata, “Adapun ucapan Anas, “...di Madinah sepuluh tahun”,
maka hal itu telah disepakati dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para
ulama.” Selesai kutipan.
(at-Tamhid karya Ibnu ‘Abdil Barr 3/9)
Lampiran Faedah
Riwayat-riwayat hadis tentang sifat Nabi ﷺ ini mengandung faedah yang sangat agung dalam bidang akidah,
sirah, dan hadis. Di antaranya yang paling menonjol:
1/ Menetapkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia, sebagaimana manusia lainnya; memiliki tinggi
badan, bentuk tubuh, rambut, dan warna kulit, namun beliau dimuliakan dengan
wahyu dan risalah.
2/ Menampakkan kesempurnaan postur beliau ﷺ; sifat-sifat beliau berada di tengah antara berlebih-lebihan
dan kekurangan: tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek, tidak terlalu putih
pucat dan tidak pula sangat gelap, tidak terlalu keriting rapat dan tidak pula
terlalu lurus. Ini merupakan keindahan keseimbangan dan kesempurnaan penciptaan
(postur) beliau.
3/ Menunjukkan bahwa keseimbangan dalam penciptaan (postur)
adalah tanda kesempurnaan; Allah Ta‘ala menjadikan beliau dalam bentuk yang
paling adil dan rupa yang paling indah, yang menandakan kesempurnaan fisik dan
keserasian anggota tubuh beliau.
4/ Menjelaskan usia diutusnya beliau ﷺ, yaitu pada umur empat puluh tahun, usia kematangan akal dan
fisik.
5/ Menjelaskan masa kerasulan beliau ﷺ; beliau tinggal di Mekah sepuluh tahun setelah diutus, kemudian
di Madinah sepuluh tahun. Dalam sebagian riwayat disebutkan tiga belas tahun
di Mekah. Hal ini membantu penetapan kronologi sirah Nabi ﷺ.
6/ Menentukan usia beliau yang mulia; bahwa beliau wafat
pada usia enam puluh tahun (dan dalam riwayat lain enam puluh tiga tahun),
sebagai bagian dari pengetahuan sirah dan penetapan sejarah.
7/ Menunjukkan sedikitnya uban di kepala dan janggut
beliau ﷺ;
tidak sampai dua puluh helai rambut putih, yang menjadi tanda kecerahan wajah
dan keelokan beliau bahkan di usia lanjut.
8/ Menjelaskan sifat rambut beliau ﷺ, yaitu berada di antara keriting dan lurus, cenderung berombak
dan seimbang (normal); ini termasuk bagian dari keelokan beliau.
9/ Menjelaskan panjang rambut beliau ﷺ bahwa rambut beliau mencapai antara kedua telinga dan
pundaknya, sehingga memberikan gambaran fisik beliau yang lebih rinci.
10/ Menjelaskan cara berjalan beliau ﷺ.
Anas رضي الله عنه berkata, “Apabila beliau berjalan, beliau berjalan dengan
condong ke depan,” seakan-akan menuruni jalan yang landai.
Ini menunjukkan kekuatan, keteguhan, dan kesungguhan,
bukan sikap lemah atau sombong.
11/ Mengundang untuk semakin mencintai Nabi ﷺ; deskripsi-deskripsi ini mendekatkan gambaran beliau ke dalam
hati, sehingga bertambah kerinduan dan kecintaan kaum mukminin kepada beliau.
12/ Menunjukkan disyariatkannya meriwayatkan sifat-sifat
Nabi ﷺ,
karena ia termasuk sunnah yang terjaga, sebagaimana ucapan dan perbuatan beliau
diriwayatkan, agar manusia semakin mengenal beliau.
13/ Menunjukkan ketelitian para sahabat dalam
meriwayatkan sifat-sifat mulia tersebut; sampai-sampai mereka menghitung helai
rambut putih, sebagai bukti amanah mereka.
14/ Menetapkan salah satu bentuk keistimewaan beliau
dalam penciptaan bahwa Allah memilih beliau, memperindah rupanya, dan
menjaganya dalam kesempurnaan, sehingga tampak seakan-akan tetap muda, meskipun
telah lanjut usia.
15/ Menjadi bantahan terhadap orang-orang yang
berlebih-lebihan; sifat-sifat ini menegaskan bahwa beliau adalah manusia yang
tidak boleh disembah, dan tidak diberi sifat ketuhanan, karena beliau memiliki
tinggi, warna kulit, dan rupa seperti manusia lainnya.
16/ Menunjukkan kesesuaian pengutusan pada usia empat
puluh tahun, sebagai isyarat bahwa manusia mencapai kematangan akal dan
pengalaman pada fase ini.
17/ Isyarat tentang keseimbangan antara dunia dan
akhirat; beliau ﷺ menggabungkan keindahan lahir dan kesempurnaan batin dalam
pribadi, kehidupan, dan risalah beliau.
18/ Menjelaskan keutamaan para sahabat, karena merekalah
yang meriwayatkan sifat-sifat ini dengan teliti, yang menunjukkan kedudukan
mereka dalam menjaga, menghafal, dan mencintai Nabi ﷺ.
19/ Menghidupkan kerinduan untuk berjumpa dengan beliau ﷺ; setiap kali seorang muslim membaca sifat-sifat ini, ia
membayangkan sosok beliau, lalu merindukan perjumpaan dengannya, dan berdoa
agar Allah mengumpulkannya bersama beliau.
20/ Menetapkan kaidah dalam mengenal sirah, bahwa berita-berita
tentang sifat-sifat beliau termasuk bagian dari sirah Nabi yang wajib dijaga
dan diajarkan kepada umat.
Komentar
Posting Komentar